Jumat, 07 Desember 2012

MAKNA PENGAMEN YANG SEBENARNYA


Jadi PENGAMEN itu tidak mudah


Setiap kali berpergian dengan bus atau kereta api, saya sering dihibur dengan penampilan para seniman jalanan. Kebetulan saya termasuk salah satu orang yang memperhatikan bagaimana penampilan dan musikalitas para pengamen itu. Senang rasanya bila saya bertemu dengan pengamen sederhana, tanpa banyak gaya, namun musikalitasnya jauh di atas rata-rata. Kalau saya disuruh memilih, saya akan memilih pengamen papan atas ini dibandingkan puluhan musisi yang hanya mengandalkan teknik lypsinc. Karena pengamen-pengamen papan atas itu, saya percaya musik tidaklah harus berasal dari panggung-panggung gemerlap.
Sayangnya, pengamen dianggap sebagai profesi yang berkonotasi negatif. Pengamen dianggap pekerjaan para pemalas yang kadang memaksa dan mengganggu kenyamanan para penumpang. Memang ada pengamen yang kurang sopan seolah memaksa penumpang memberikan sejumlah uang, namun bagi saya pengamen yang baik juga masih ada. Maksud saya, pengamen yang santun berkata, menyanyikan lagu-lagu dengan baik, dan tidak asal genjreng. Dua syarat yang saya gunakan untuk menilai pengamen adalah kata maaf dan terima kasih. Pengamen sebaiknya memohon maaf karena tidak semua penumpang nyaman dengan suasana yang riuh di dalam perjalanan. Saya juga menaruh hormat kepada pengamen yang selalu mengucapkan terima kasih, baik diberi recehan ataupu tidak.
Para pengamen itu sebenarnya sudah menyadari suara-suara miring yang ditujukan pada mereka. Pengamen disamakan dengan pengemis dan anak jalanan yang menurut sebuah fatwa dilarang untuk diberikan uang. Para pengamen yang tidak mempunyai banyak pilihan hidup itu kemudian merapat dan membentuk komunitas. Di Jakarta, di mana setiap harinya ratusan pengamen mencari nafkah di jalan, para pengamen membentuk kelompok-kelompok kesenian. Beberapa komunitas pengamen yang ada di Jakarta antara lain Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bulungan, Penyanyi Bekasi Barat (PBB), Anak Benhill di Bendungan Hilir, dan Anak Bonjol di Jalan Imam Bonjol. Selain untuk menyatukan pengamen yang merasa senasib sepenanggungan, komunitas itu juga berguna sebagai perlindungan bila ada para pengamen mendapatkan masalah.
Komunitas-komunitas pengamen di Jakarta juga selalu melakukan pendewasaan terhadap para pengamen. Para pengamen di Blok M, misalnya, mempunyai kriteria tersendiri untuk menyebut seseorang pengamen. Selama ini kesan negatif pengamen berasal dari mereka yang asal-asalan, misalnya mereka yang hanya bertepuk tangan dengan suara yang tidak jelas. Bagi mereka, pengamen harus bisa menghibur dengan penampilannya. Kelompok pengamen di Blok M itu tidak mewajibkan pengamen harus menyanyi, karena “ngamen” bisa dilakukan dengan membaca puisi, main sulap, atau main drama. Sekarang standar “musisi jalanan” tidak hanya soal gitar dan vokal, yang penting ada nilai seninya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar